Blogger Perempuan
Ulfa Khairina | Find The Oliversity Through Your Chapter
Ulfa Khairina | Find The Oliversity Through Your Chapter

Lebaran Bareng Borang


SUDAH LAMA saya ingin menuliskan catatan di balik proses akreditasi yang menguras kewarasan. Namun kesempatan yang saya tunggu itu tak kunjung datang. Saya pikir, habis borang terbitlah terang. Ternyata tidak, masih ada tugas dan masalah yang harus diselesaikan setelahnya. Sampai saya harus undur diri dari dunia maya dan membiarkan algoritma media sosial saya hanya menawarkan informasi random.

Semua berawal dari awal Januari 2026. Tiba-tiba di tengah malam saya mendapat undangan pelantikan yang dikirimkan staf SDM di kampus tempat saya bekerja. Dia meminta saya untuk memakai Pakaian Sipil Lengkap (PSL) yang artinya acara hari itu akan berlangsung formal.

Pelantikan yang Tak Terduga

Meskipun kode-kode tentang pengalihan nakhoda program studi sudah tercium, saya tetap menghindari jabatan apapun di kampus. Seperti kata orang-orang, menjadi pejabat kampus tidak melulu berkah. Untuk orang seperti saya yang doyannya nongkrong di cafe sambil menulis, mendapat jabatan adalah musibah. Saya tidak bisa berkarya dan tentu saja emosi saya akan meletup-letup seperti gunung api aktif.


ruang kerja
Ilustrasi ruang kerja favorit yang diinginkan kebanyakan dosen.
[Photo: Pexels/Ellekwee]

Pelantikan yang tak terduga itu terjadi juga meski saya sudah menghindar sebisa mungkin. Saya mengajukan tugas belajar dan ternyata prosesnya sangat panjang sekali. Pengajuan itu tidak langsung diproses. Rektor meminta saya untuk menyelesaikan akreditasi terlebih dahulu. Padahal saya nggak akan lari jika akreditasi, kok. Hanya saja, ketua prodi sebelumnya menghilang tanpa jejak dan pengalihan terpaksa dilakukan.

Saya pikir semua akan aman setelah saya katakan tidak. Ternyata tetap saja ‘ditumbalkan’ untuk akreditasi. Saya datang ke kampus dengan PSL yang dimaksud. Mata sembab dan kehilangan semangat hidup. Otak saya tidak bisa mencerna apapun. Hanya kata-kata tega yang terus terulang dalam kepala. Saya menangis sepanjang malam dan datang ke ruang pelantikan dengan mata bengkak.

Saat pengambilan sumpah, saya juga tidak mengikuti sumpah yang dibacakan. Hampir tidak ada orang yang berani mengucapkan selamat. Apalagi bagi teman-teman yang tahu latar belakang pelantikan tidak adil ini. Mereka hanya membagikan flyer sebagai bagian ikut meramaikan.

Setiap orang yang mengucapkan selamat akan saya balas dengan kalimat, “tidak perlu mengucapkan selamat. Doakan saja saya sehat mental dan fisik untuk menghadapi semua masalah ini.” Ada juga yang sama sekali tidak mengucapkan selamat, tapi menyampaikan kepeduliannya untuk tetap kuat.

Hanya beberapa jam setelah pelantikan. Berbagai masalah merongrong saya seperti guyuran bunga saat memenangkan atau naik sebagai anggota dewan. Bukan bunga, lho. Masalah. Ya, ma-sa-lah!

Nasehat Para Kaprodi

Bukan rahasia pula jika para kaprodi yang sedang menjabat atau pernah menjabat pernah merasakan posisi stres jelang asesmen lapangan akreditasi. Mereka tiba-tiba terserang lambung, sakit mendadak, bahkan setengah linglung. Ya, akreditasi adalah beban yang paling berat untuk sebuah prodi. Katanya, ujian paling berat bagi prodi adalah akreditasi. Di saat ini kita juga bisa menilai mana kawan mana lawan.


asesmen lapangan
Proses asesmen lapangan yang mendebarkan.
[Photo: Humas STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh]

Teman-teman yang pernah menjabat kaprodi memberi nasihat kepada saya. Bukan nasehat untuk menghapal borang, tapi nasihat untuk tidur cukup. Kata mereka, jika saya yang sakit tidak akan ada gunanya data lengkap dan tim hebat. Saya pikir benar juga, tapi saya benar-benar pada mode stres dan tidak bisa melakukan apapun lagi. Pekerjaan terlalu banyak, tapi tidak tahu harus melakukan apapun.

Lantas salah seorang kaprodi yang sudah mendapatkan predikat unggul dari LAMDIK menasehati saya dengan tulus. “Jangan dibawa beban. Lakukan semampunya. Jika memang tidak bisa dikerjakan. Tunda dulu. Perbanyak self reward.”

Saya tentu saja sangat menyadari soal self reward itu. tidak terkirakan lagi berapa uang yang saya jajankan pada lapak orens. Terlalu banyak untuk disebut self reward. Namun saya nikmati saja karena ini bagian dari usaha dan lelahnya saya saat kondisi stress.

Kejutan dari Meja Warkop

Beberapa hari setelah pelantikan, saya mengikuti rapat perdana sebagai ketua prodi baru di fakultas. Ternyata dekan mengundang eks kaprodi untuk melakukan serah terima jabatan. Tidak terbayang bagaimana kesalnya saya saat itu. Untuk apa sertijab? Tidak perlu.

Pada hari itu dia mengatakan di depan forum akan menyerahkan semua data akreditasi dan menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum selesai. saya tidak percaya itu. Saya sangat mengenalnya, maka begitu sertijab selesai saya langsung meminta dekan untuk terus meminta data yang dijanjikan itu sampai dekannya kesal.

Saya sadar jika jadwal asesmen lapangan bisa keluar kapan saja. Maka saya mulai mengecek, mencicil, dan melengkapi bukti dukung perlahan. Saya biasa bekerja di warkop bersama salah seorang teman yang juga menghabiskan waktu di warung kopi. Saat itulah asam lambung saya tiba-tiba menyerang bagian ulu hati. Saya nyaris pingsan di tempat publik.

Data yang selama ini kami kumpulkan setengah mati tidak ada di dalam Google Drive. Saya panik, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara teman-teman lain sedang menyelesaikan kekacauan yang dia buat. Dibantu oleh seorang teman yang juga sedang menyelesaikan data untuk prodinya, saya terus bekerja menyelesaikan apa yang bisa saya selesaikan. Saya sempat kesal, protes, menangis, tapi tetap saja saya merasa berjuang sendiri.

Tak Lari di Perbatasan

Beberapa teman menyarankan agar saya meninggalkan saja kegilaan akreditasi ini. Lagipula saya sudah mendaftarkan diri untuk kuliah pada intake Februari di negeri jiran. Saya sempat galau, tapi tidak pernah berencana mengikuti apa yang disarankan itu.


Rapat
Ilustrasi rapat
[Photo:Pexels/Mandiri Abadi]

Saya ingat pesan ayah saat beliau masih hidup. “Selesaikan apa yang sudah dimulai. Jangan lari dari tanggung jawab yang sudah diamanahkan kepadamu. Jika kamu tidak ingin dikenang sebagai pecundang, jangan lari di perbatasan medan perang.”

Maka saya tak lari di perbatasan. Saya mengikuti permainan yang terasa tidak adil ini. Saya tetap bertahan meski dengan bisik-bisik yang paling tidak enak juga terdengar sampai ke kuping. Ada yang mengatai bodoh, ada pula yang mengatai sok pahlawan. Bisik-bisik tetangga yang paling menyakitkan adalah saat saya mendengar ada yang berkata, “oh, dia memang gila jabatan. Sudah lama dia menginginkan jabatan itu. Tak heran dia suka cari panggung lebih heboh dari yang punya panggung.”

Awalnya saya abaikan, tapi semakin lama semakin berisik. Kepada orang yang menyampaikan saya jelaskan kalau saya punya rencana lebih baik daripada sekedar menjadi tempat orang lain membawa masalah. Saya ingin kuliah. Namun pertahanan saya tidak lama, saya tidak kuat juga mendengar bisikan yang semakin liar.

Saya menceritakan kepada teman-teman satu tim di prodi. Mereka langsung ambil alih keadaan. Menuntaskan angin ribut di luar sana yang mengganggu suasana hati saya. Meski tidak menghilang, tapi orang-orang setidaknya tahu kalau saya punya rencana lain yang lebih baik dan terencana.

Berserah Tanpa Pasrah

Pada bulan kedua, salah satu prodi akhirnya mendapatkan jadwal untuk asesmen lapangan. Seperti biasa saya datang untuk melihat, memberi dukungan, dan membantu sedikit apa yang bisa saya lakukan di prodi orang lain. Meski banyak juga yang mengatakan, “memangnya setelah kamu bantu orang lain, mereka akan datang buat balas bantuan? Jangan harap.”

Memang tidak. Jangan berharap balasan itu akan datang seperti barter bisnis. Saya tidak berharap itu terjadi, tapi saya tahu Allah tidak pernah tidur. Jika yang pernah kita bantu tidak bisa membantu kembali. Allah pasti akan mengirimkan orang lain untuk membantu. Bantuan bisa dalam bentuk apa saja. Tidak pernah ada yang bisa menebak balasan Allah.

Saat saya melihat prodi yang menurut saya paling siap untuk dibantai itu mengalami hal lazim dalam proses teknis asesmen lapangan, saat itu pula keraguan saya semakin kuat. Saya mungkin akan mendapat bantaian yang lebih parah.


dokumen akreditasi
Ilustrasi dokumen
[Photo: Pexels]

Saya mulai pasrah dengan segala kondisi. Segala hal yang terkait akreditasi saya serahkan kepada Allah, tapi saya nggak akan menyerah. Saya akan tetap berusaha yang terbaik tanpa memaksa hasil yang di luar ekspektasi.

Dua minggu kemudian, prodi lain juga mendapatkan jadwal. Saya mulai resah. Apalagi asesornya sampai marah-marah. Data banyak tidak sinkron dan situasi sangat membuat gentar. Tangan saya sampai gemetar saat menjadi notulen. Saya pun ketakutan.

Kali ini saya benar-benar nggak akan diam saja, tapi saya nggak bisa apa-apa selain berserah tanpa pasrah. Perlahan saya mulai menghubungi teman-teman. Mengajak mereka untuk merapatkan barisan untuk pengumpulan bukti dukung akreditasi.

Kejutan Jelang Lebaran

Hal paling kami risaukan terjadi. Seminggu sebelum lebaran, BAN-PT mengumumkan tanggal asesmen lapangan untuk prodi kami. Tentu saja kami kocar kacir. Terutama saya.

Saat pimpinan menggelar rapat secara daring, saya dalam perjalanan mudik ke Aceh Tengah. Mobil yang disetiri oleh suami saya juga sedang menyesuaikan dengan lenggak lenggok jalan gunung. Sinyal muncul tenggelam di gunung. Pembahasan lumayan panjang. Saya hanya bisa mendengar, tapi tidak bisa memberi pendapat. Peserta Google Meet tidak bisa mendengar suara saya.

Dalam rapat dibahas soal kesiapan tim internal prodi dalam menghadapi asesmen lapangan. Saya sendiri sangat siap dengan segala resiko yang terjadi. Beberapa telaah yang sudah kami ajukan langsung kami minta umpan balik. Pekerjaan yang belum selesai langsung dicarikan solusinya.

Di grup prodi, kami ikutan mengobrol dan membahas berbagai hal yang menurut kami layak didiskusikan. Bahkan perbincangan masih berlangsung sampai kami tiba di rumah pada waktu Zuhur. Saya sempat istirahat dan sempat juga tidur siang. Kami tiba sesuai dengan perkiraan.

Malamnya saya mulai tidak bisa tidur. Setelah anak-anak tidur, saya langsung membawa laptop ke ruang tamu. Diiringi dengkur suami yang ketiduran di sofa, saya langsung membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. saya begadang hingga sahur.

Buat Borang VS Buat Bolu

Saya memang tidak pernah membuat kue saat lebaran. Jika berkumpul di rumah Mak di Takengon, ada adik saya yang rajin membuat bolu. Bahkan kami sering lebih memilih memesan bolu yang sudah pasti jadi dan hasilnya fluffy dibandingkan buat sendiri yang lebih sering gagalnya.

Tahun ini saya tidak punya pilihan lain. Saya lupa memesan bolu, saya juga tidak ikut andil membersihkan rumah. Saya tidak turun ke dapur sama sekali. Saya duduk di kamar, membuat borang. Sementara yang lain sibuk buat bolu di dapur.

Tidak ada yang menyindir, menanyakan, atau menggoda. Melihat wajah saya yang serius saja mereka sudah paham kalau dunia sedang tidak baik-baik saja. Mereka paham dan saya bersyukur.

Libur lebaran tahun ini lebih panjang. Selain cuti bersama, ada WFA yang memudahkan para pemudik untuk berlibur lebih lama dan kembali ke domisili kerja tidak terburu-buru. Sayangnya, saya nggak bisa menunggu lebih lama. Lebaran ketiga saya langsung mengajak suami pulang ke Banda Aceh. Lebaran keempat saya langsung naik angkutan umum ke Meulaboh. Tanggung jawab sudah menunggu saya di Meulaboh.

Setelah melewati lebaran bareng borang. Akhirnya saya paham kenapa banyak kaprodi yang mengundurkan diri dari jabatan saat masa penyusunan borang.

Posting Komentar